KESADARAN AKAN TUBUH JIWA DAN ROH
Manusia adalah ciptaan Allah istimewa karena terdiri dari TUBUH, JIWA dan ROH. Apapun yang kita lakukan selama di dunia ini, apapun kejadian yang kita alami, apapun yang membuat kita memiliki rasa sedih dan gembira, apapun yang pikiran-pikiran yang kita miliki adalah representasi dari 3 faktor utama dalam manusia. Jika ROH kita baik otomatis JIWA kita menjadi baik dan tindakan yang dilakukan oleh TUBUH akan mengikuti secara otomatis.
Ketika kita menjalani hidup di dunia ini, kita pasti banyak menggunakan pikiran dan perasaan dalam menghadapi banyak hal. Pikiran dan perasaan yang kita alami sangat berpengaruh terhadap rejeki dan kesehatan. Pikiran dan perasaan kita setiap hari harus selesai pada hari itu, tidak terbawa di hari-hari berikutnya, entah itu perasaan sedih dan bahagia, pikiran jelek dan pikiran baik.
Kenyataan yang kita hadapi, manusia bisa menyelesaikan pikiran dan perasaan yang POSITIF saja, tetapi yang NEGATIF sering kali tidak bisa di selesaikan, bahkan mengendap lama di tubuh, sehingga mempengaruhi energi yang terpancar dari diri manusia itu sendiri. Hubungan antara Allah dan manusia bisa terlihat dari pancaran energi seseorang, jika seseorang manusia memiliki hubungan yang baik dengan ALLAH, manusia tersebut bisa merasakan kehadiran ALLAH. Ungkapan rasa SYUKUR itu benar-benar nyata didalam kehidupan manusia tersebut. Semua itu bisa terjadi ketika IMAN seseorang tersebut baik adanya, karena IMAN adalah dasar dari segala sesuatu yang tidak terlihat.
Energi yang mengalir di kehidupan manusia, mengakibatkan dampak terhadap REJEKI dan KESEHATAN. Jika seseorang dalam menjalani hidup penuh dengan BAHAGIA dan selalu mengucap SYUKUR, energi yang terpancar dalam diri manusia tersebut akan baik selalu adanya, tidak heran jika selalu sehat dan rejeki selalu mengalir di kehidupannya bahkan mengalir deras, namun jika sebaliknya, manusia akan selalu merasa kekurangan, rejeki terasa terhenti, mengerjakan segala sesuatunya tidak ada yang berhasil, selalu menganggap segala sesuatunya adalah sebuah masalah, sulit untuk bersyukur bahkan dari hal yang paling kecil (bersyukur masih di beri kesempatan hidup sampai saat ini), bisa bernafas, makan, berjalan, melihat dan mendengar.
Hal Pikiran dan Perasaan ini tidak memandang apapun dan siapapun, kaya dan miskin, tua dan muda, banyak dari mereka tidak bisa mengendalikan pikiran dan perasaan mereka ketika berhadapan dengan yang NEGATIF.
Bagaimana memperbaiki Energi pada diri kita?
Banyak orang lari dari perasaan yang NEGATIF, mereka tidak mau merasakan sakit hati, sedih, takut, khawatir dan teman-teman lainnya. Dalam menghadapi rasa ini mereka cenderung berusaha melawan dan menghindari dimana hasil dari usahanya tersebut adalah mengalami hal yang selalu berulang dan tidak kunjung selesai.
Endapan Perasaan NEGATIF : jika kita terus menerus melawan pikiran dan perasaan negatif ini lama kelamaan kita akan merasa kelelahan karena TUBUH akan mengalami dampak dari JIWA dan ROH yang tidak baik bahkan JIWA kita mengalami dahaga karena kering.
MENERIMA adalah SOLUSI
Manusia sudah di design sedemikian rupa oleh Sang Pencipta untuk menerima. Sering kali manusia karena mendapat masukan – masukan dari keluarga, tradisi, doktrin, kepercayaan maka manusia membentuk filter dalam dirinya. Filter ini hidup ketika menerima yang NEGATIF, tetapi jika POSITIF filter mati. Intinya manusia hanya mau menerima yang mengenakan hati, jika itu membuat hatinya tidak enak akan di TOLAK.
Apa yang terjadi jika selalu MENOLAK yang NEGATIF?
Kita perlu tahu bahwa perasaan POSITIF dan NEGATIF sebenarnya bobotnya sama, hanya filter didalam tubuh kita yang membuat perlawanan terhadap yang negatif. Jika yang POSITIF kita bisa menerima dengan baik, kita juga harus bisa menerima yang NEGATIF juga.
Memang secara hormone perlakuannya berbeda, POSITIF lebih kepada hormone kebahagiaan : dopamin, oksitosin, serotonin, dan endorphin, sedangkan hormone kesedihan : hormon kortisol yang akan hidup ketika kita didalam kondisi stress.
Jika kita menerima semuanya dengan baik, semua pikiran dan rasa akan lewat begitu saja. Contoh jika Anda menerima rasa senang / gembira karena Anda mendapat ticket tour 7 hari ke Amerika plus uang saku. Pertama-tama yang Anda rasakan akan sangat gembira dan mungkin meluapkan kegirangan dengan menghubungi sanak saudara untuk memberitakan berita Bahagia ini. Singkat cerita anda sudah menikmati kesenangan tour Amerika, setelah 3 bulan Anda disuruh merasakan rasa senang Anda seperti waktu awal pertama kali, apa yang Anda dapatkan? Rasa senang itu sudah menjadi biasa kadarnya karena rasa senang tersebut berhasil Anda TERIMA dengan baik (tanpa ada PENOLAKAN).
Contoh lagi, ketika Anda dan istri Anda merindukan buah hati, tiba-tiba istri Anda memberikan kabar jika dirinya positif hamil, Anda pasti akan sangat kegirangan bahkan bisa sampai meneteskan air mata, karena anda sebentar lagi akan menjadi seorang ayah. Bukan begitu? Tapi setelah Anak Anda lahir, rasa gembira ketika anda mendapat kabar bahwa istri anda positif hamil sudah tidak lagi terasa seperti awal mula. Hal ini wajar, karena Anda menerima rasa gembira tersebut dengan baik, sehingga rasa gembira tersebut lewat dengan sempurna.
Bandingkan dengan rasa sakit hati ketika Anda dikhianiati istri. Istri anda selingkuh dibelakang Anda, kemudian Anda menceraikan istri Anda. Kejadian sakit hati ini, akan terus anda ingat sedetil-detilnya meski kejadian tersebut sudah lewat 5 tahun. Benar demikian?
Apa yang membedakan? Hati Anda tidak bisa menerima rasa sakit hati tersebut dan menahan rasa tersebut tetap ada. Padahal jika rasa sakit hati Anda tersebut anda terima seperti rasa senang, rasa sakit hati itu akan lewat begitu saja seperti rasa senang.
Sadarkah Anda akan hal ini ?
MENERIMA itu tanpa USAHA APAPUN
Pada saat kita menerima segala kejadian, kita harus menyadari bahwa kita adalah TUBUH JIWA dan ROH. Pada saat kita menerima jangan posisikan TUBUH dan JIWA kita yang menerima, namun ROH kita yang menerima, karena ketika ROH kita sudah bisa menerima segala kejadian dengan baik, TUBUH DAN JIWA kita akan mengikuti apa yang ROH kita alami. Pada saat ROH kita menerima kejadian, ROH tidak mungkin bisa campur tangan atau merasakan apalagi berpikir. ROH murni hanya sebagai penonton setiap kejadian yang sedang kita alami. Intinya dengan menjadi penonton, hati dan pikiran kita menjadi DAMAI.
Kehidupan yang kita jalani setiap hari ibarat sebuah film yang sedang di putar dan akan berakhir ketika kita tidur malam. Menerima adalah sebuah posisi dimana kita sebagai manusia hanya menyaksikan segala macam kejadian yang melibatkan pikiran dan rasa (terutama yang NEGATIF). Jika kita dalam menonton sebuah film ikut terlibat dalam filmnya, maka pikiran dan rasa kita bergejolak dan film tersebut terkadang malah terhenti di tengah jalan. Padahal jika kita tidak terlibat didalam adegan film tersebut, film tersebut akan selesai dengan sendirinya, yakni ketika kita tidur malam.
Jadi MERIMA itu tidak perlu usaha apapun, kita hanya cukup diam dan menyaksikan segala adegan dalam cerita tersebut hingga selesai. Begitu kita terlibat didalamnya, film hari itu tidak selesai dan akan dilanjutkan dihari berikutnya, padahal dihari berikutnya ada film baru yang harus kita tonton hingga selesai. Jika kita terus terlibat didalam film tersebut akan membuat terhenti lagi dan kita harus melanjutkannya lagi dikemudian hari.
Terhentinya film tersebut adalah ketika kita tidak bisa menerima sebuah kejadian yang membuat kita berpikir dan merasakan perasaan yang NEGATIF (takut, sakit hati, marah, iri, nafsu berlebihan, dan teman-temannya).
Contoh ketika kita sedang memiliki hutang bank 100 juta dan kita tidak bisa membayar bunga atau melunasi hutang tersebut karena perputaran usaha kita yang macet. Perasaan yang muncul ketika kita sedang mengalami hal ini biasanya ketakutan (apapun bentuknya). Jika kita menerima rasa ini dengan baik, maka rasa takut tersebut lewat dan perasaan kita menjadi biasa.
Ketika kita bisa menerima rasa takut ini dengan baik, berarti kita sedang menggunakan ROH kita dengan baik, sehingga TUBUH dan JIWA kita lebih tenang dalam menghadapi rasa NEGATIF.
Setelah kita berhasil menerima rasa takut bukan berarti hutang kita kemudian selesai.
Apa yang harus kita lakukan setelah dapat menerima ?
Jika kita sudah bisa menerima rasa NEGATIF berarti kita sudah berhasil menjadi PENONTON sepenuhnya terhadap film yang sedang kita mainkan. Apa yang harus kita lakukan selanjutnya adalah terus menjalani film kita setiap hari. Ketika kita bisa menerima berarti ROH kita hidup, dengan ROH yang hidup alam semesta akan memberikan kita solusi atas permasalahan yang kita hadapi dengan caranya yang AJAIB. Tugas kita hanya menunggu.
Jebakan dalam melakukan aktivitas
Jika kita percaya bahwa Allah beserta kita, maka percayalah bahwa Allah tidak akan membiarkan umatnya ada didalam masalah. Pertolongan akan selalu dating tepat pada waktu-Nya, kita tetap melewati segala sesuatunya setiap hari, kita akan bertemu dengan berbagai macam kejadian berikutnya. Pada kenyataannya kita selalu ingin mempercepat film yang harusnya kita tonton menuju solusi terhadap masalah yang sedang kita hadapi.
Contoh : jika kita sedang berhadapan dengan hutang, maka kita selalu ingin mempercepat hutang tersebut cepat terlunasi dengan kita beraktifitas dengan cara kita sendiri.
Setiap aktifitas yang kita lakukan dengan background masalah yang sedang kita hadapi, maka masalah tersebut tidak akan kunjung selesai, malah tambah ruwet (berantakan), karena setiap tindakan yang kita lakukan penuh dengan nafsu untuk menyelesaikan masalah dengan cara kita bukan cara Allah. Nafsu ini yang membuat pikiran dan perasaan kita menjadi tidak damai. Kita harus menerima rasa atas nafsu kita ini agar kita benar-benar bisa berdamai dengan diri kita sendiri. Jangan terjebak dengan hal ini.
SOLUSI dari ALLAH
Solusi yang diberikan ALLAH tidak mungkin bisa kita pikirkan dan rasakan. Solusi dari ALLAH akan datang kepada kita dengan tidak terduga dan solusi dari ALLAH tidak hanya satu, bisa lebih dari satu. Sabarlah dalam menunggu solusi dari ALLAH.
Banyak dari kita tidak sabar akan hal ini, tidak sabar dalam menjalani keseharian kita. Kita akan dihadapkan dengan kejadian-kejadian serupa yang membuat hati bergejolak lagi (rasa takut, sakit hati, kawatir dan lain sebagainya), kita harus melewati semuanya hanya dengan menerima semuanya. Menerima berarti kita benar-benar iklas dan berpasrah terhadap pertolongan ALLAH, menerima berarti kita BERSYUKUR atas semua kejadian yang terjadi didalam hidup kita.
Bersyukur berbeda dengan Terima Kasih. Bersyukur kita menerima semua yang ada pada kita saat ini, tapi berterima kasih terjadi ketika ada object yang kita terima.
Bahagia berbeda dengan Senang. Berbahagia berarti kita selalu merasakan damai disetiap hari, pikiran dan perasaan kita tidak gampang terganggu dengan hal-hal NEGATIF. Senang terjadi pada diri kita hanya pada kurun waktu tertentu.
Contoh : Ketika kita mendapat hadiah sebuah mobil AVANZA, awal-awal kita akan merawat mobil tersebut dengan seksama, baret sedikit aja langsung di poles, setiap hari di cuci sendiri, diberikan berbagai macam accessories untuk melindungi body mobil agar tetap mulus. Tetapi setelah lewat 3 bulan, 6 bulan bahkan sudah 1 tahun, rasa senang kita akan pudar. Mobil tersebut menjadi sesuatu yang tidak istimewa lagi seperti awal pertama kali memperolehnya.
Jika kita bisa memposisikan TUBUH JIWA DAN ROH di keseharian kita dengan benar, maka kita bisa merasakan kasih ALLAH yang tidak terbatas.
Ketika kita berontak tidak bisa menerima, berarti ROH kita tidak hidup, TUBUH dan JIWA kita yang berperan aktif. TUBUH dan JIWA adalah hal yang TERBATAS, sedangkan ROH adalah hal yang tidak terbatas, karena ROH kita berhubungan dengan ALLAH langsung dimana ALLAH adalah SUMBER dari segala SUMBER yang tidak terbatas.